Life Is…

Jika harus menganalogikan hidup, maka saya suka sekali menganalogikan hidup dengan ‘menyetir’. Kenapa harus ‘menyetir’? Karena bagi saya, ketika saya menyetir sebuah kendaraan, itu adalah bagaimana saya menjalankan hidup saya.

Hidup seperti menyetir. Anda duduk manis mengendalikan setir kendaraan anda. Kemanapun yang anda tuju, semua pilihan anda. Setiap orang selalu memiliki tujuannya sendiri, lurus, belok, menikung tajam, atau melewati jalan berlubang nan terjal. Saat anda menyetir kendaraan anda, akan ada banyak petunjuk, sama seperti hidup. Anda hanya tinggal memilih, mengikuti kemana petunjuk mengarahkan anda, atau mencoba arah baru agar perjalanan terasa segar? Dalam perjalanan Anda, akan ada lampu merah beberapa kali, dalam hidup itu berarti kita harus berhenti sejenak, mengistirahatkan hati dan pikiran agar segalanya kembali jernih.

Tak jarang, ketika anda menyetir anda akan diberhentikan polisi, menegur anda yang lupa memakai safety belt atau melanggar marka jalan. Dalam hidup, itu berarti Tuhan sedang menegur kita karena kita kurang berhati-hati atau keluar dari batas yang telah ditentukan. Anda akan melihat banyak orang sepanjang perjalanan anda, beraneka ragam, anda boleh memilih siapa yang mau anda angkut untuk mencapai tujuan. Saat macet, anda akan melihat banyak kesempatan untuk menyalip, jika mungkin, gunakanlah. Begitu juga dengan hidup, saat sesuatu terasa tidak mungkin, selalu akan banyak kesempatan untuk menjadikannya mungkin. Mungkin anda akan merasakan lelah yang teramat sangat saat menyetir, begitulah hidup. Ketika anda lelah, gunakan “lampu merah” untuk istirahat, meregangkan otot-otot kaku.

Bagi saya, hidup itu mudah. Manusia yang membuatnya rumit. Namun kita juga bisa membuatnya tidak rumit dengan menjalaninya setulus hati. Ambil banyak foto untuk kenangan anda, tertawa sepuasnya, memaafkan dan minta maaf, mencintai tanpa takut disakiti, katakan betapa kita mencintai seseorang, tidak perlu peduli dengan mereka yang membicarakan anda (karena well, anda yang menjalankan hidup anda bukan?), menari di bawah rintik hujan, menjalin persahabatan, tersenyum hingga wajah terasa kebas, dan jangan pernah takut untuk mengambil kesempatan.

Karena pada akhirnya, setiap kali kita bersedih atau marah, kita telah membuang sedetik kebahagiaan yang tidak akan kita dapatkan kembali. You just have to live life to the fullest… 🙂

 

Salam,

nhanhas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s