ilmu ‘parenting’, bukan nanti tapi sekarang (part 1)

sebenernya tulisan saya berikut adalah oleh-oleh dari ikutan seminar parenting di sekolah keponakan saya, apalah arti ikut seminar jika saya tidak membagikan ilmunya kepada khalayak, bukan begitu? 😀 jadi sepertinya tulisan saya ini akan terbagi dalam beberapa part yang akan saya tulis perlahan. selamat menikmati!

***

seminar parenting yang saya datangi hari itu dimulai dengan membahas “10 Tanda Kehancuran sebuah Bangsa”. yang menarik, tanda-tanda tersebut mulai muncul dari usia dini. mari kita bahas satu per satu:

  1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja
    Kekerasan di kalangan remaja saat ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi orang tua. bisa kita lihat bagaimana di luar sana, saat jam pulang sekolah hampir sering terjadi tawuran antar pelajar, atau contoh yang paling sederhana adalah bagaimana seorang remaja mengalami bullying atau penindasan oleh kakak kelasnya di sekolah. Hal tersebut bisa terjadi saat seorang remaja menyaksikan kekerasan tersebut, atau mengalaminya sendiri. Siaran TV di Indonesia saat ini kurang dapat menyaring mana berita yang baik dan buruk, sehingga sesuatu yang buruk dianggap menjadi sesuatu yang sudah biasa. anak-anak pun semakin sering terpapar oleh kekerasan dimanapun mereka berada.
  2. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk
    Pernah dengar seorang anak mengumpat orang tuanya? rasanya itu tidak asing lagi. saya sering melihat di facebook, twitter, atau media sosial lainnya, seorang anak yang tidak suka atas perbuatan orang tuanya melakukan ‘perlawanan’ melalui kata-kata melalui media sosial. mirisnya, kata-kata tersebut terdengar (atau terbaca) tidak pantas untuk dilontarkan oleh seorang anak kepada orang tuanya. belum lagi di jalanan, di angkot, di sekolah, di warnet, kita sering kali mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut anak-anak. saya pribadi tidak bisa menyalahkan cara pengasuhan orang tua terhadap anaknya, karena secara garis besar, lingkungan lah yang membentuk anak-anak tersebut. saya berikan sedikit contoh, keponakan saya yang berusia 5 tahun tidak pernah main ke luar untuk menghindari dirinya dari perbuatan/perkataan yang tidak pantas untuk dilakukan, namun apa yang terjadi, di sekolah ketika dia bergaul dengan temannya, dia dengan cepat menyerap kata-kata ‘negatif’ yang kemudian dia praktekan di rumah bersama sang kakak. tentu ini adalah sesuatu yang di luar kontrol kami, terutama saya sebagai tantenya. sehingga seharusnya sudah menjadi tugas kita, orang dewasa untuk bisa melakukan kontrol dimanapun kita berada.
  3. Munculnya sebuah kelompok/geng
    saat jaman sekolah dulu, dari SD sampai SMA, saya selalu memiliki teman sekelompok yang kemudian sering disebut geng. munculnya geng-geng atau kelompok-kelompok dalam lingkungan sekolah tentunya menimbulkan konflik sosial, karena bukan tidak mungkin seseorang yang bergabung dalam sebuah geng/kelompok memiliki kesamaan nilai yang mereka anut. jika mereka menganut paham ‘kekerasan’, jadilah geng tersebut penuh kekerasan. lain lagi jika mereka menganut paham ‘persaingan’, maka geng tersebut akan penuh dengan persaingan sana-sini demi sesuatu yang meningkatkan eksistensi mereka. tidak semua geng atau kelompok ini mengarah pada sesuatu yang negatif, namun kebanyakan contoh, terutama dalam lingkungan sekolah, geng-geng ini akan mengarah pada perbuatan yang negatif seperti melabrak, tawuran, nongkrong bareng, dll.
  4. Meningkatnya perilaku merusak diri
    rokok, alkohol, narkoba, seks bebas, adalah contoh-contoh dari perbuatan yang merusak diri. saat ini di Indonesia, pengguna remaja yang berusia 12-21 tahun ditaksir sekitar 14.000 orang dari jumlah remaja di Indonesia sekitar 70 juta orang. sementara seks bebas di kalangan remaja semakin meningkat, terutama di perkotaan. perilaku merusak diri ini semakin meningkat akibat kurangnya pengawasan dan perhatian dari para orang tua yang seharusnya menjadi pendamping bagi anak-anaknya.
  5. Semakin kaburnya moral baik dan buruk
    acara TV atau lingkungan di sekitar kita tinggal semakin memperlihatkan kaburnya mana moral yang baik dan buruk. seseorang dengan moral baik semakin berkurang, sementara seseorang yang memiliki moral buruk semakin dibiarkan dalam masyarakat. hal ini seharusnya menimbulkan kecemasan bagi kita sebagai orang tua, karena kaburnya mana yang baik dan buruk tentunya akan berdampak pada anak-anak. ini bukan hanya tugas orang tua utama saja, namun juga orang dewasa lainnya yang berada di sekitar anak-anak, untuk terus mendampingi anak dalam memperlihatkan mana yang baik dan buruk.

(to be continued)

 

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An – Nisa, Ayat 9)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s