ilmu ‘parenting’, bukan nanti tapi sekarang (part 3 – end)

HALO!

nah, setelah kita tahu bahwa 10 tanda kehancuran sebuah bangsa itu sudah ada di sekitar kita, bahkan melekat dan identik sekali dengan anak-anak kita, maka apa yang harus kita lakukan? Kita tidak hanya harus mengingatkan mereka, karena mengingatkan belum cukup bagi anak-anak. Apa yang mereka butuhkan?

  1. Dampingan orang tua
    Bisa jadi, anak-anak yang melakukan banyak kenakalan pada dasarnya adalah anak-anak yang mencari perhatian orang tuanya. Karena selama ini orang tuanya hanyalah orang tua ATM, atau orang tua yang akan ada di sekitar anak-anak jika anak-anak butuh uang. Sadarkah kita, sekecil apapun bentuk kita mendampingi anak-anak, itu akan sangat berarti bagi mereka? Contoh simple yang sering saya lakukan adalah mendampingi keponakan saya menonton TV, karena jika tidak didampingi, dua keponakan saya akan menarik perhatian dengan menonton acara-acara TV yang belum pantas mereka tonton. Sekecil itu, namun banyak orang tua nampaknya lupa betapa pentingnya keberadaan mereka di sekitar anak-anak mereka saat pertumbuhan.
  2. Pendekatan dengan baik
    Komunikasi adalah kunci utama jika kita ingin memiliki hubungan yang baik. Dan komunikasi yang baik adalah kunci kita bisa melakukan pendekatan dengan anak-anak. Mungkin bisa dimulai dengan sharing atau berbagi cerita mengenai apa saja yang sudah terjadi selama seharian. Misal, saat anak pulang sekolah kita bisa bertanya apa yang mereka lakukan di sekolah, lalu apa yang akan mereka lakukan. ingat! Anak-anak biasanya akan merasa apabila nada bicara kita sekedar ingin tahu atau melakukan investigasi. Buatlah anak merasa nyaman bersama keluarga atau berada di rumah, sehingga anak bisa dapat menghabiskan waktu dan berbagi cerita.
  3. Kontrol Terhadap anak
    Mengontrol anak bukan hanya dengan menelfon dia satu jam sekali (apabila kita bekerja atau jauh dari rumah) untuk menanyakan keadaannya baik-baik saja. Mengontrol anak bisa dilakukan dengan mengarahkan anak pada kegiatan-kegiatan yang positif, sehingga anak berada pada lingkungan positif yang dapat mendorong anak untuk melakukan dan berfikir positif pula.
  4. Kerja sama
    Meminta anak untuk memahami kondisi adalah salah satu bentuk kerja sama. Sepanjang kita mengucapkan kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’, anak-anak merasa telah dilibatkan dalam banyak hal yang orang tuanya lakukan. apalagi jika anak-anak benar-benar kita libatkan dalam kegiatan rumah tangga lainnya? 😀
  5. Ajarkan anak Sebab – Akibat
    Pernah mendengar nasehat, bahwa semakin kita bilang “Jangan” kepada anak, maka anak itu akan semakin melakukannya? Ya, itu memang sering terjadi. Maka dibandingkan harus mengatakan “jangan ya nak”, maka coba diganti dengan kalimat simple sebab-akibat, “nak, kalo kamu begitu, nanti kamu begini loh”. Dari sebab-akibat tersebut anak akan paham bahwa hal tersebut akan mencelakakan atau berbahaya baginya.
  6. Hindari pembentukan konsep diri yang rendah
    Kadang kita sebagai orang tua tanpa sadar mengeluarkan kata “bodoh” di depan anak-anak kita, padahal ada pepatah mengatakan ‘setiap ucapan adalah doa’. Bukan hanya sekedar doa, namun kata-kata negatif yang kita keluarkan untuk anak-anak kita adalah kata-kata yang dapat membentuk konsep dirinya. Jika kita sering mengatakan ‘dia bodoh’, maka dia akan merasa bodoh, dan bodohlah dia. Namun jika memang dia kurang dalam pelajaran, kita bisa mengatakan “nak, ini sudah baik, namun alangkah baiknya jika…..” maka anak akan termotivasi untuk melakukan yang lebih baik. sehingga konsep diri yang terbentuk adalah percaya diri, percaya bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu yang lebih baik.
  7. Ayah + Ibu = Seimbang
    ayah dan ibu adalah dua sayap pada burung (anak) yang mengepakkan sayapnya bersama-sama untuk dapat terbang di angkasa biru. Apabila salah satu sayap tidak bekerja secara maksimal, maka timpanglah terbangnya. Begitu pula akan peran ayah dan ibu dalam sebuah keluarga. Mendidik anak bukan hanya menjadi tugas utama seorang Ibu, namun tugas utama bagi seorang ayah pula. Karena dari Ayah, kebanyakan anak-anak belajar. Karena dari Ibu, kebanyakan anak-anak memahami. Ayah dan Ibu, apabila bekerja sama dalam mengepakkan sayapnya, membagi perannya rata dan adil, maka terbanglah tinggi anak-anak mereka dalam menggapai cita.

Jadi, mempelajari ilmu dalam mendidik anak itu bukanlah sesuatu yang harus kita pelajari setelah memiliki anak nantinya, tapi harus dimulai dari saat ini, sekarang. Karena semakin kita memahami apa yang harus kita lakukan dalam mendidik dan mendampingi anak, Insha Allah kita adalah bagian dari orang tua idaman para anak-anak cemerlang. Jangan malu! Karena sekarang atau nanti, cepat atau lambat, kita akan menjadi orang tua, hal yang tidak pernah kita bayangkan saat menjadi anak-anak…

 

Salam,
-nha-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s