Keep Giving, Keep Smiling

berawal dari cerita-cerita sama bapak tadi malam, berlanjut dengan nyasar baca sebuah tulisan di linkedin tentang seberapa kuat kita memiliki keinginan untuk berbagi dan memberi, saya ingin sekali menuliskan apa yang ada di pikiran ini *tsaelah*.

Bapak bilang, orang yang beriman, belum lengkap imannya tanpa sodaqoh, belum lengkapnya ketaatannya tanpa memberi atau membantu sesama. Bapak bisa bilang begitu, karena memang Bapak adalah orang yang senang memberi dan berbagi. tapi kadang, banyak juga orang yang sudah mulai bersodaqoh, tapi masih takut rejekinya berkurang. padahal tidak setitikpun rejeki itu berkurang, jika dihabiskan dalam jalan sodaqoh, karena pastinya akan ada rejeki lainnya yang kadang tidak kita sadari (bukan hanya dalam bentuk materi). Bapak juga mengingatkan, yang wajib memang 2,5%, itu untuk mencuci harta kita, tapi ada wajib-wajib lain diluar 2,5% yang juga seharusnya kita penuhi, untuk menguji sejauh mana kita memahami bahwa Allah yang mengatur rejeki kita, dan bahwa apa yang kita habiskan di jalan Allah bisa saja dibalas di dunia, bisa saja di balas di Akhirat…

sementara tadi siang, saya membaca sebuah artikel tentang keluh kesah seorang suami yang sebenernya malu sama apa yang istrinya lakukan. bukan malu karena istrinya melakukan hal yang negatif, tapi malu karena betapa istrinya sangat dermawan, sementara dia sedang berusaha menjadi dermawan (karena malu sama istrinya). sang suami bertanya pada istrinya “kenapa kamu rela memberi?”, dan dijawab istrinya “karena itu yang bisa aku lakukan untuk membuat dunia lebih baik”. we make a better world by helping people who need the most. tapi rupanya sang suami ini memiliki satu ganjalan, kadang dia masih suka merasa “yang penting saya sudah menawarkan bantuan” diterima atau tidak, itu urusan kedua. padahal menurut sang suami, bisa saja saat kita menawarkan bantuan, mereka memang sedang tidak membutuhkan, tapi kita harus terus mencoba menawarkan, karena siapa tau detik berikutnya orang itu membutuhkan.

kesimpulan yang ada di pikiran saya adalah, kita manusia ini memang cepat puas. baru mengeluarkan zakat 2,5% sudah puas. baru mengeluarkan uang sepuluh ribu untuk kotak amal masjid, sudah puas. baru saja menawarkan bantuan untuk nganterin ibu hamil, kemudian ditolak, kita sudah merasa puas, karena toh “kita sudah menawarkan bantuan”. kita gampang puas dengan apa yang kita keluarkan, karena sesungguhnya kita merasa itulah yang sanggup kita berikan, iya soalnya kalo kita ngasih lebih, rejeki kita habis donk. padahal Allah lah yang mengatur rejeki kita. Allah lah yang akan mengganti apapun yang kita habiskan untuk membantu sesama. uang yang habis untuk menjadi kakak asuh anak yatim, waktu yang dihabiskan untuk jadi relawan mengajar, otak yang terkuras untuk menyiapkan acara pengumpulan dana bagi korban banjir, tenaga yang dipakai habis untuk membantu tetangga yang kena musibah, semuanya sungguhlah akan diganti oleh Allah, ntah di dunia ini ataupun di akhirat nanti.

bayangkanlah jika setiap orang rela menawarkan bantuan dan menghabiskan rejekinya di jalan Allah… betapa dunia ini akan lebih baik, dan amalan kita di akhirat nanti akan terus bertambah…

semoga, bisa menjadi salah satu orang-orang yang selalu bisa membantu dan memberi, dengan senyuman keikhlasan… 🙂

 

salam,
nina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s