menulis dengan hati, menulis dengan kepala

menulis. dari kelas 1 SMP sudah membiasakan diri untuk menulis apa saja. puisi, cerita pendek, referensi, pidato, dan lain-lain. seingat saya waktu SMP dulu, saya selalu unggul di bidang Bahasa Indonesia (bukannya GR loh). saat itu, setiap menulis saya menggunakan segenap hati saya agar tulisan saya menjadi indah *tsah.

bertahun-tahun semenjak itu, saya masih suka menulis. tapi sudah tidak terlalu banyak. kadang cuma bisa menulis curahan isi hati, kadang menulis segaris puisi, atau menulis surat untuk kekasih hati (surat elektronik tentunya). saya masih menulis dengan hati, karena dari dulu saya selalu menulis dengan hati. begitulah…

hal yang saya hadapi saat ini adalah tuntutan untuk menulis dengan kepala. artinya, menulis sebuah tulisan ilmiah, yang akan dimasukkan ke dalam sebuah jurnal internasional. saya baru merasakan perbedaannya, menulis dengan kepala tidaklah semudah menulis dengan hati. karena ketika kita menulis dengan kepala, kita harus jauh lebih berhati-hati menuangkan apa yang ada di pikiran, jangan sampai menjadi plagiarisme, jangan sampai bahasanya tidak santun atau tidak enak dibaca. menulis dengan kepala? duh, saya sudah 4 bulan membiarkan begitu saja tulisan ilmiah saya, hasil penelitian saya waktu menyelesaikan studi master saya. tuntutan untuk menulis dengan baik dan mudah dimengerti, dan dapat dengan mampu menyampaikan isi dari penelitian secara sistematis adalah sesuatu yang sedikit menantang buat saya.

 

ah semoga saya bisa segera menyelesaikan tulisan ilmiah saya. ya, menulis dengan kepala… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s