Merek juga Berkelamin

Seminggu terakhir ini timeline Path saya berisi video di atas, mungkin karena tanggal 21 kemarin hari Kartini kali ya, makanya temen-temen saya yang up-to-date gak mau ketinggalan gitu. Tulisan kali ini mungkin bakalan sedikit membosankan, karena saya akan menyalurkan ilmu yang saya pelajari selama 5,5 tahun. Hahaha.

Pertama kali liat video ini (saya nontonnya gak sampe habis loh, soalnya udah keburu mewek-mewek geje), saya mengira kalau video ini adalah sebuah iklan dari merek perawatan tubuh terkenal, Dove, yang sering sekali mengangkat tema-tema perempuan seperti ini. Nah, karena kebetulan liatnya di Path, saya pun mencoba search di youtube dengan kata kunci: “iklan Dove terbaru”, tapi rupanya dugaan saya salah, ini bukan iklan Dove! Saking penasarannya, saya sampe masuk ke profile teman saya itu, dan kembali melihat video itu lagi sampai habis. Yang mengejutkan saya adalah, ternyata video itu adalah sebuah persembahan dari Astra Life yang sedang membuat campaign anyar bertemakan I Love Life, Karena Aku Perempuan Indonesia (visit: http://ilovelife.co.id/). Kok saya bisa sampe kepikiran kalo itu iklan Dove ya?

Sebuah merek itu juga sesungguhnya punya personality atau gender. Kaya kalo kita denger merek mobil “Jeep”, mungkin kita bisa mengasosiasikan gender si Jeep ini sebagai cowok. Dan itu yang terjadi pada si Dove. Dove ini kalo di Indonesia gendernya adalah perempuan, dia punya seluruh personality sebagai merek perempuan, sensitive, manis, fragile, graceful (Lieven, Theo, et al., 2014). Hasil penelitian dari Theo Lieven dan Kawan-kawan (peneliti dari University of St. Gallen, Switzerland) menyatakan bahwa sebuah merek yang memiliki personality maskulin atau feminin yang kuat memiliki brand equity yang tinggi. Brand Equity apaan sihk? Yah contoh gampangnya kaya kasus mirip-iklan-Dove ini, saking kuat Brand Equitynya Dove sebagai merek feminin, saya sampai mengira kalau iklan ini adalah buatannya Dove :p

Dalam penelitian ini juga, 3 merek yang dianggap feminin adalah Dove, Chanel, dan Olay. Sementara 3 merek yang dianggap maskulin adalah Mercedes, Audi, Levi’s. Mungkin karena penelitian ini dilakukan di Jerman ya, jadi beberapa merek terasa kurang familiar di telinga kita, kecuali kalau masuk Mangga Dua. Di Indonesia sendiri, merek-merek yang dianggap maskulin kebanyakan adalah merek rokok, sementara yang dianggap feminin pastilah merek-merek kecantikan.

Balik lagi ke video di atas, menurut saya Astra Life ini berhasil ambil momen untuk me-release campaignnya, bulan April dan Kartini adalah momen yang tepat. Apalagi video-nya sanggup membawa tangis dan bintang iklannya terasa nyata dan dekat dengan kehidupan. Sayangnya, karena kebanyakan tema-tema video seperti ini adalah tema yang sering diangkat merek lain (misal: dove), maka bukan gak mungkin kan orang-orang di luar sana selain saya juga mengira kalo video ini di buat oleh si dove. But then, good job and good luck for Astra Life dan campaignnya. Campaign yang luar biasa!

 

***notes: tulisan ini bukan di bayar dove dan astra life. :p

Cheers,
nina

Advertisements

2 thoughts on “Merek juga Berkelamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s