Alasan untuk Mencari Pengalaman

0300097f
Berlayar

Salah satu kebiasaan saya di kantor kalo bosen kerja adalah baca-baca artikel, cek harga tiket pesawat, cari promo travel, dan nulis blog ini. Pagi ini saya menemukan sebuah artikel menarik yang di share salah seorang teman di twitter. Artikel berjudul “The 7 Reasons That Science Says You Should Pay For Experience, Not Things” ini membahas tentang sebuah penelitian yang mengatakan lebih baik kita membeli sebuah pengalaman, daripada sebuah barang. Dan ada 7 alasan untuk hal tersebut…

1: WE SEE THE WORLD THROUGH ROSE-TINTED GLASSES

Di artikel tersebut menyebutkan ya, ketika kita membeli sebuah “experiences” maka itu rasanya seperti “looking through rose-tinted glasses”, maksudnya ada perasaan positif yang dihasilkan dari membeli experiences tersebut, meskipun misalnya saat kita melaluinya ada hal-hal di luar dugaan (negatif) yang terjadi.

Contoh gampangnya gini, waktu saya ke Boracay, Filipina, saya harus kejar-kejaran sama Topan Hagupit yang datang dalam beberapa jam kedepan. Kebayangkan seremnya gimana? Tapi, meskipun serem, sehari setelah kejadian itu saya cerita ke orang-orang bahwa itu pengalaman yang meskipun seram tapi menyenangkan. Tau kan ada istilahnya macam “disini ceritanya” yang membuat pengalaman itu jadi jauh lebih berkesan? Hehehe.

Sebelum Topan Hagupit (Boracay, Filipina)
Sebelum Topan Hagupit (Boracay, Filipina)

With experiences, our memories bring the best bits to the front and give them a rosy glow—and the annoying, tiresome parts fade into the forgotten background.

2: WE GET BORED OF STUFF EASILY

Yes. I get bored of stuff easily. Beli handphone baru, seminggu dimainin, bosen, pengen beli lagi yang lain. Beli tas baru, seminggu dipake, pengen beli yang baru lagi. Begitu aja seterusnya sampe negara Api menyerang (apa sih).

Kalo beli “experiences”? Saya ketagihan banget ikutan arung jeram, ketagihan berenang di Waterbom, dan gak pernah bosen sama yang namanya snorkeling di Pulau Seribu. Karena menurut saya pribadi, gak ada yang bisa gantiin pengalaman-pengalaman itu, gak ada yang bisa menyaingi harganya pengalaman-pengalaman itu, semahal apapun barangnya 🙂

3: IT’S HARDER TO COMPARE EXPERIENCES

 (copas langsung dari artikelnya)
“Weighing up experiences is far more subjective. Since it’s harder to compare experiences, you’re less likely to worry whether you’re making the best choice or not, less likely to regret your choice afterwards, and less likely to think about the status implications of your choice.”

gak ada yang namanya “snorkeling itu lebi seru daripada naik gunung” atau vice versa, karena semuanya adalah pendapat pribadi. Karena ga ada yang bisa dibandingin dari perasaan liat ikan nemo langsung di laut, atau liat samudera awan di puncak gunung. Semuanya itu terserah kamu yang menilai… 😀 (meskipun di artikel contohnya ga cuma experience jalan-jalan aja yaaa hehehe)

4: THE LIFE-CHANGING MAGIC OF FLOW

Flow adalah sebuah mental state yang kita dapatkan ketika kita secara tidak sengaja atau effortlessly menyatu dengan apa yang kita lakukan. Flow ini yang kemudian menghasilkan perasaan bahagia karena kita fokus dalam melakukan sebuah kegiatan. Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan Csikszentmihalyi di tahun 1980an menyatakan bahwa remaja tahun 80an lebih senang ketika mereka sedang dapat tugas yang menantang atau lagi olahraga.

5: TO WAIT (FOR AN EXPERIENCE) IS GREAT

People tend to feel more happier when they wait for experiences. Dibandingkan disuruh menunggu rilis iphone baru yang bikin deg-degan, rupanya menunggu experiences itu lebih bikin deg-degan dan bahagia.

Sebenernya sih bahagiain saya gampang banget loh ya, coba deh kasih tau saya kalo saya itu bakalan berangkat ke Sumba (misalnya) bulan Juli nanti, pasti saya langsung jejingkrakan seneng. Ya kan? (ini mah ngarep namanya…)

6: EXPERIENCES MAKE THE MAN (AND THE WOMAN)

Terinspirasi dari filmnya Jim Carrey & Kate Winslet, Eternal Sunshine of the Spotless Mind, Carter and Gilovich membuat sebuah penelitian yang mengajak partisipannya untuk menilai hal apa yang lebih buruk saat kehilangan ingatan. Para partisipan menyatakan bahwa, kehilangan ingatan mengenai pengalamannya itu adalah hal yang lebih buruk daripada harus kehilangan their sense of identity. Di penelitian lainnya, Carter dan Gilovich meminta partisipannya untuk menulis dua hal, pengalaman dan barang yang telah mereka beli, kemudian meminta mereka untuk menulis narasi mengenai hal apa yang membuat mereka menjadi diri mereka saat ini dan harus termasuk dalam dua hal yang ditulis sebelumnya. Hasilnya? Yups, mereka menuliskan apa yang membuat mereka menjadi diri mereka saat ini berdasarkan PENGALAMANNYA.

Dan saya selalu merasakan, apa yang membentuk saya sekarang berasal dari apa yang telah saya alami sebelumnya. Dan begitulah kebanyakan orang lainnya. Iya kan? 😀

7. WE’RE PEOPLE PEOPLE

Sebagai makhluk sosial, kita pastinya suka dipeluk, suka digandeng, suka diperhatiin, suka didengar, dll. Hal ini menjadikan pengalaman itu membuat kita lebih happy daripada barang, karena membuat kita lebih dekat dengan orang lain.

Saya lebih suka duduk di kafe, cerita-cerita sama suami. Atau menguji adrenaline dan pegangan kenceng-kenceng sama suami, momen-momen saat dia menenangkan saya dan saya meyakinkan dia. Hal-hal yang kadang cuma bisa kita lakukan saat kita melakukan sesuatu… Saat kita enjoying an experience.

Saya sendiri, lebih suka dengar atau baca cerita orang tentang liburannya, tentang pengalaman hidupnya, daripada dengerin dia cerita abis beli apa. Saya lebih iri dengan orang yang pengalamannya lebih berwarna daripada orang yang barang-barangnya tuh branded semua. Dan pastinya, saya lebih memilih bayar mahal beli experience, daripada beli barang (karena beli baju, masih bisa beli di Tanah Abang).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s