The Power of SALE!

Beberapa waktu yang lalu, kita dibuat heboh dengan musimnya diskon. Mulai dari Harbolnas sampe End Season Sale, Winter Sale, New Year Sale, atau apalah itu. Semua harga-harga jadi terasa lebih murah, apalagi udah diskon 50% tambah lagi diskon 20%, atau udah beli 2 eh dapet 1 lagi. Betapa menggiurkan yah?

Saya sudah 6 tahun mempelajari marketing, gak cuma mempelajari, saya juga menjadi pemerhati sale-sale yang malang melintang bikin kantong jebol itu. Bukan berarti dengan mempelajari marketing beserta tetek bengek consumer behaviour saya jadi terhindar dari sale, saya masih sering tanpa sadar beli barang karena merasa “SALE! Murah nih!”. Hahaha.

Nah, ini saya bocorin dikit ya. Apa yang dilakukan oleh penyedia barang/jasa yang melakukan sale atau diskon gila-gilaan itu disebut ‘Framing’. Framing (Kahneman & Tversky, 1989) merupakan salah satu fase dalam proses pemilihan yang memberikan analisa awal pada pemutusan masalah. Dalam fase ini, sebuah masalah dapat ditampilkan baik atau buruk tergantung bagaimana cara masalah pemilihan itu diutarakan, baik oleh nilai yang ada, kebiasaan atau harapan si pembuat keputusan. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa framing adalah ‘first impression’ yang nantinya akan mempengaruhi keputusan seseorang dalam memilih.

wpid-img_20140127_220830

Salah satu contoh dari framing ini adalah mencoret harga awal. Sering lihat kan harga yang dicoret di supermarket diganti dengan harga yang agak-sedikit-murah, atau yang gila-gilaan terasa seperti angka 10.000.000 dicoret dan diganti menjadi 5.999.000. Angka 10juta itu adalah sebuah titik referensi (framing), karena kita melihat angka 10juta ini dicoret, kita merasa angka 5.999.000 itu terasa jadi jauh lebih muraaahhh. Selisih angka yang tidak harus kita bayarkan itu pada akhirnya membentuk sebuah persepsi bahwa kita “UNTUNG BANYAAAKKK”.

1818464lazadalgleon25juta780x390

Pemberian diskon dalam marketing sebenernya wajar dilakukan. Yang gak wajar adalah di Indonesia, kebanyakan harga yang mahal itu sudah dilipatgandakan dulu sebelumnya. Kasus pada Harbolnas kemarin yang masih segar di kepala saya adalah harga sebuah handphone yang jadi berkali-kali lipat harga aslinya, kemudian didiskon diangka 93% dan terasa jadi jauuuhhhh lebih murah, padahal emang harga aslinya segitu. Meskipun ini adalah permainan sebuah merchant yang nakal sih ya. Tapi saya juga pernah menemukan diskon di sebuah toko retail di Jakarta, tulisannya buy 2 get 1. Saudara saya waktu itu sudah antusias mau beli, teruusss ada satu barang yang saya curiga ngeliat harganya ada tempelan dua, saya buka sedikit di tempelan atasnya, terlihat harga yg jauh lebih murah dari harga sebelumnya dan buat saya nganga lebar.

Kenapa pemberian diskon dalam marketing itu wajar? Pertama, kita tau yang namanya barang itu pasti akan mendekati tanggal kadaluarsa, kalo fashion pastinya akan out-of-date modelnya, oleh karena itu penjual bisa memberikan diskon pada produknya tersebut, sampai mendekati harga dasarnya (modal awal penjual). Jadi bukan dikali dua dulu baru di diskon 50% ya… 😀 😀 😀 Atau diskon bisa dijadikan gimmick, makanya dia hanya datang dalam jangka waktu tertentu (biasanya di supermarket-supermarket nih).

Intinya sih ya, semurah-murahnya harga yang ditawarkan setelah diskon, penjual akan tetap untuk kok… Hehehe. So, jadilah pembeli yang cerdas dengan menjadi pembeli yang price sensitive... 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s