28 My Age

Ketika tulisan ini terbit, saya sedang duduk di sebuah kafe di Korea Selatan, sambil ngeliatin oppa-oppa ganteng. Yaela.

Sudah 28 tahun. Sudah ngapain aja? Begitu yang ada di kepala saya selama sebulan lalu menjelang 28 tahun.

Rasanya selama 27 tahun hidup saya yang lalu, saya selalu diburu-buru dengan pertanyaan orang-orang yang menyebalkan, macam “kapan lulus S1?”, “kapan lulus S2?”, “kapan kerja?”, “sekolah mulu gak mau nikah?”, “kapan nikah?”, “udah nikah gak mau kerja?”, “kerja mulu, gak mau punya anak?”, “kapan punya anak?”, “gajinya dikemanain, gak beli rumah?”, dan seterusnya…

Sampai akhirnya saya muak dengan itu, dan menyadari kalau saya udah terlena untuk membuktikan ke mereka bahwa saya bisa. Tapi akhirnya, saya berhenti sendiri. Saya berhenti untuk peduli dengan pertanyaan itu setelah saya menyadari kalau sebagian mimpi saya hancur digerus obsesi orang lain.

Hal kaya gini gak cuma terjadi sama saya, saya yakin itu. Banyak orang lain di luar sana yang pasti mengalami hal yang sama, tapi mungkin hanya sedikit dari mereka yang bisa memutuskan untuk berhenti dan gak tergerus lagi.

“Well, for one thing, the culture we have does not make people feel good about themselves. We’re teaching the wrong things. And you have to be strong enough to say if the culture doesn’t work, don’t buy it. Create your own. Most people can’t do it.”
― Mitch AlbomTuesdays with Morrie

Beberapa waktu lalu kita tau kalau Kate Spade dan Anthony Bourdain meninggal karena bunuh diri. Dua orang yang kita lihat dari jauh sebagai orang yang memiliki pencapaian baik. Orang yang jadi panutan. Ternyata, mereka menyimpan beban yang teramat berat, dan mungkin mereka tidak bahagia.

Saat membaca berita-berita itu, saya bertanya sama diri sendiri “apakah kamu bahagia?”

Saya terdiam. Saya masih meraba bagaimana definisi bahagia dalam hidup saya, karena seluruh bahagia yang saya rasakan adalah hasil dari membuktikan ke orang-orang lain bahwa saya mampu, bukan hasil dari membuktikan ke diri saya sendiri bahwa saya patut untuk bahagia.

Sebulan kemarin saya kembali melihat ke belakang, apa hal yang benar-benar membuat saya bahagia? Rupanya sederhana, saya bahagia ketika saya menyadari bahwa saya jauh lebih beruntung dari banyak orang. Saya bahagia ketika saya menyadari bahwa orang-orang disekeliling saya menyayangi saya dan memberikan dukungan terbaik mereka untuk saya. Saya bahagia, karena saya tidak sendiri. Saya bahagia, karena saya bisa mencintai diri saya sendiri.

Maka, mulai tahun ini, saya ingin fokus pada satu kata: BAHAGIA.

Ya, saya harus bahagia. Apapun itu bentuknya, kebahagiaan saya sekarang adalah yang terpenting, karena saya takut berakhir tidak bahagia. Saya tidak ingin diingat sebagai orang yang tidak bahagia dan membahagiakan. Saya ingin diingat sebagai orang yang selalu bahagia dan membahagiakan…

 

28 my age. Saya berharap untuk terus berbahagia…

 

“Because if you’ve found meaning in your life, you don’t want to go back. You want to go forward.”
― Mitch AlbomTuesdays with Morrie

Advertisements

5 thoughts on “28 My Age

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s