Hidup selama Pandemi

Baru sadar saya sudah setahun lebih gak aktif menulis di blog ini. Padahal kalo mau diingat-ingat, banyak banget cerita yang belum saya bagikan di blog, termasuk perjalanan kelabu ke Jepang. Hehe. Salah satu alasan saya gak aktif menulis setahun ini adalah, Pandemi Corona.

Saya ingat betul, tahun lalu waktu Corona baru-baru menyerang Indonesia, saya udah dibuat stress karenanya. Pertama, kakak saya adalah seorang penderita Auto Immune, dan dokter wanti-wanti dia jangan sampai kena. Kedua, orang tua saya punya background penyakit bawaan yang cukup menakutkan (jantung, darah tinggi, diabetes). Ketiga, di pertengahan bulan Maret, Ibu saya menjadi Orang dalam Pengawasan (ODP) karena beliau ada kontak dengan kasus positive corona. Keempat, informasi yang setengah-setengah dimana-mana membuat saya jadi serba parno, serba hati-hati, terus akhirnya jadi stress berat.

Masih fresh di kepala gimana saya dikit-dikit semprot hand sanitiser, gak berani ke Mall, takut ketemu orang, dan pernah takut ke rumah orang tua karena takut bawa virus ke rumah mereka. Ketakutan saya itu berangsur pulih, berangsur membaik, tapi di penghujung 2020 kemarin, tepat 10 bulan setelah pandemi ini, Suami dan 16 anggota keluarga lainnya positive covid19, menyisakan beberapa orang, termasuk saya. Iya, saya negative covid19 dan harus keluar dari rumah, ngurusin keponakan-keponakan yang juga negative. Dan tentunya, harus pisah dengan suami kurang lebih 3 minggu.

Semenjak kejadian itu, saya mulai takut lagi. Mulai serba hati-hati lagi. Jarang banget keluar rumah lagi. Kalo mau beli makan keluar sama Suami tuh milihnya panjaaannnggg banget. Bahkan menghindari Mall dan tempat yang kira-kira penuh kerumunan. Sebegitunya.

Tambah patah hati lagi, karena bulan ini kakak saya didiagnosa positive covid19 dan sampai sekarang masih ada di ICU rumah sakit. Benar-benar patah hati dengan kondisi pandemi ini. Kondisi yang membatasi kita semua, membuat waktu terasa berjalan lambat, tapi sisi yang lain juga terasa cepat sekali.

Hidup selama pandemi ini benar-benar menguras tenaga saya, menguras isi hati saya. Saya tau, saya gak sendirian. Ini salah satu hal yang membuat saya bisa terus tegak dan berjalan sampai sekarang. Dan sampai detik ini, saya dalam setiap doa selalu minta supaya pandemi ini segera berakhir, dan kita gak perlu hidup dalam ketakutan lagi.

Tapi bagaimanapun kedepannya, saya berharap kita bisa selalu menjaga kesehatan. Tetap sehat, tetap tegar, dan tetap ikhlas sama kondisi pandemi ini. Aamiin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s